Jajak Pendapat

Bagaimana Pelayanan Puskesmas di Tempat Anda ?
 
P1140733.jpg

Kontak Kami

cyberpapua


Visitors Counter

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday76
mod_vvisit_counterYesterday85
mod_vvisit_counterThis week161
mod_vvisit_counterLast week836
mod_vvisit_counterThis month492
mod_vvisit_counterLast month3073
mod_vvisit_counterAll days26872

Online (20 minutes ago): 8
Your IP: 38.107.191.103
,
Today: Sep 05, 2010

Di dukung oleh:

  
Active Search Results

Film Kami



Get the Flash Player to see this player.

Tong Gabung



01

Mar

Pelayanan RSUD YOWARI Dikeluhkan PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Administrator   

Pelayanan RSUD Yowari belakangan ini mulai di keluhkan masyarakat. Adanya informasi dari warga yang menyebutkan pihak RS tetap membebani pasien peserta Jamkesmas dengan tetap memintanya untuk membeli infus dan obat – obat lainnya di RS, tampak benar adanya.

 

Berdasarkan keterangan dari sejumlah pasien yang di temui Cendrawasih Pos, Sabtu (27/2) lalu, sejumlah keluarga pasien mengaku jika pihaknya harus mengeluarkan uang untuk membeli infus dan obat – obat lainnya.

Ari awalka, salah satu keluarga pasien, mengungkapkan saat dirinya membawa saudaranya bernama jery awalka yang menderita penyakit dalam ke UGD, petugas langsung menyuruhnya untuk membeli 1 kantong infus seharga Rp. 57 Ribu.

‘’Setahu saya setiap pasien yang memiliki kartu Jamkesmas tidak perlu membeli atau membayar infus. Tapi , Jumat kemarin setelah saudara saya periksa, petugas langsung menyuruh saya untuk beli infus. Sebab, kalau infus tidak di beli katanya tidak akan di pasang infus,’’ujarnya.

Ditanya apakah saat itu stok infus habis, sehingga pasien di suruh beli. Ari mengaku tidak mengetahui penyebabnya , yang ia ketahui dirinya hanya diharuskan membeli infus untuk segera dipasang.

Bagaimana dengan obat – obatan, menurut Ari’’untuk sementara obat hanya di berikan begitu saja, tanpa dirinya diharuskan untuk membeli’’. Apakah, nantinya setelah saudaranya sembuh dan di minta bayar atau tidak, dirinya belum mengetahui.

Hanya saja kata Ari Awalka, infus yang diminta untuk dibeli itu infus yang pertama saja. Sedangkan, infus ke-dua , ke-tiga dan ke-empat tidak di minta bayar.

Hal yang sama juga diungkapkan , Yogi orang tua dari pasien bernama Sendi, penderita Malaria. Meskipun dirinya memiliki kartu Jamkesmas, namun pihak RS tetap meminta untuk membeli infus dan obat – obatan , hingga seharga Rp. 50 ribu.

‘’Sejak anak saya di rawat 3 hari di sini, saya sudah dua kali beli obat di apotek rumah sakit. Waktu itu petugas bilang obat – obatan di gudang habis, sehingga kami di minta untuk di beli di Apotek,’’ujarnya Yogi.

Sementara itu , Direktur RSUD Yowari dr.Nico Barend, M,Kes saat dikonfirmasi via telepon genggam mengatakan, kalau pun ada pasien jamkesmas di minta beli infus, itu karena stoknya habis sehingga mereka harus beli keluar.

‘’jadi kami sama sekali tidak membebani pasien , ini sifatnya kondisional saja. Sebab kami mau beli dana juga tidak ada. Tapi pasien yang sempat beli infus di luar Apotek RS , laporkan kami nanti uangnya akan diganti’’ujarnya.

Berdasarkan informasi yang diterimanya , keluarga pasien yang membeli infus sendiri tidak sampai 10 orang. Sebab , sabtunya kekurangan infus itu sudah teratasi. Begitupun mengenai pasien yang harus beli obat, ini karena obat yang dibutuhkan tidak ada sehingga mereka harus beli ke apotek swasta.

Kecuali, jika obat – obat seperti malaria dan diare persediaan obatnya cukup tersedia, karena obat – obat ini sangat di pioritaskan RS karena banyak dibutuhkan warga.

Sedangkan obat – obat yang tidak menjadi pioritas seperti penyakit dalam,ujar dr. Nico’’memang persediaanya tidak terlalu banyak karena tidak terlalu dibutuhkan pasien.

Untuk mengatasi minimnya persediaan infus, pihaknya akan secepatnya berkoordinasi dengan pihak perusahaan untuk pengadaan, meski belum dilakukan lelang mengingat barang(baca:infus) ini sangat dibutuhkan masyarakat.(mud/tri)

Di muat dalam Surat harian kabar, Cenderawasih Ps. 01 Maret 2010 hal 14.