|
|
Mengorganisir Akses Layanan Kesehatan Kampung-Kampung Terpencil di Papua |
|
|
|
Ditulis oleh Administrator
|
|
| | Medicine du Monde dan Perkumpulan Primari Provinsi Papua memiliki status kesehatan terendah dibandingkan dengan provinsi lain di Indonesia: masyarakat asli.
Papua di pegunungan memiliki tingkat kematian bayi tertinggi dan harapan hidup saat lahir terendah. Diare dan infeksi pernafasan merupakan penyakit yang paling umum. Tetapi HIV/AIDS yang berkembang saat ini merupakan sebuah epidemi dalam komunitas. Masalah-masalah lain yang menambah peliknya situasi kesehatan di sana antara lain : asupan gizi yang tidak seimbang, minimnya akses terhadap pendidikan, dan kehidupan di honai -rumah yang penuh asap semalaman- |
|
SELANJUTNYA >>>
|
|
|
Pungutan Marak, Kesehatan Gratis Di Papua Masih Sebatas Wacana |
|
|
| Keputusan Gubernur Provinsi Papua, Barnabas Suebu, SH untuk membebaskan biaya kesehatan dan pendidikan bagi orang asli Papua sampai saat ini belum tercapai. Salah satunya dipengaruhi oleh tindakan sejumlah puskesmas yang masih sering melakukan pungutan biaya kepada pasien yang akan berobat.
Investigasi yang dilakukan JUBI terkait pembebasan biaya kesehatan khusus bagi orang asli Papua sebagaimana di Puskesmas Hedam, Padang Bulan, Abepura, di Jayapura, Papua ternyata tak berjalan lurus dengan kebijakan yang dikeluarkan pemerintah Provinsi Papua terkait pembebasan biaya kesehatan. Petugas kesehatan di sejumlah puskesmas masih tetap melakukan pemungutan biaya pelayanan kesehatan bagi orang asli Papua yang tak memiliki Kartu Berobat, Kartu Asuransi Kesehatan Masyarakat Miskin (Askeskin) dan Kartu Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas). Nelci Repasi (32) dan Aman Soindemi (39), warga Kampkey, Abepura menuturkan, seluruh pelayanan kesehatan di RSUD Abepura diperoleh secara gratis. Namun warga masih harus membayar biaya pengobatan jika ingin menebus obat sebesar Rp 5.000. “Kalau kitong bawa anak atau kerabatnya ke ruang UGD masih dipungut biaya sebesar Rp 69.000,” ujarnya. |
|
SELANJUTNYA >>>
|
|
|
AUDIENSI DKR DENGAN DINAS KESEHATAN DAN PIHAK RSUD KABUPATEN KEPULAUAN YAPEN DI SERUI |
|
|
| Pada tanggal 03 Februari 2009, anggota Dewan Kesehatan Provinsi Papua dan kawan-kawan dari Dewan Kesehatan Rakyat Kabupaten Kepulauan Yapen dan Kabupaten Waropen beretemu dan melakukan audiensi dengan Dinas Kesehatan Kabupaten KepulauanYapen di Serui yang di wakili oleh Kepala Tata Usaha Ibu Pihahei sementara Kepala Dinas sendiri Dr. Ludie Suthely sedang sakit. |
|
SELANJUTNYA >>>
|
|
|
Penderita Diare Biak Capai 220 |
|
|
|
Ditulis oleh Administrator
|
|
| | BIAK, KOMPAS.com - Jumlah penderita diare di Kabupaten Biak Numfor, Papua, meningkat menjadi 220 pasien yang tersebar di 38 kelurahan/kampung dan sembilan distrik setempat.
Kepala Subdin Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Dinas Kesehatan, Andi Ridway Halim S.Sos di Biak, Senin, mengakui, dari 220 pasien diare yang ditangani terbesar dari kalangan anak berusia satu hingga lima tahun mencapai 86 orang.
|
|
SELANJUTNYA >>>
|
|
|
Obat Habis, Pasien Beli Sendiri Obat di Apotek Luar |
|
|
|
Ditulis oleh Administrator
|
|
| | Kamis, 19 Februari 2009 | 23:24 WIB BIAK, KAMIS - Para pasien rawap-inap di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kabupaten Biak Numfor, Papua, disuruh membeli sendiri obat dan cairan infus di apotek luar, akibat persediaan di rumah sakit itu habis. Wakil Ketua DPRD Biak, Jan Dantje Kbarek, dalam keterangan pers di Biak, Rabu, mengakui, dirinya merasa prihatin dengan kondisi pelayanan kesehatan di RSUD, karena sangat memberatkan masyarakat yang akan berobat. "Sebagai rumah sakit rujukan, stok obat, jarum suntik serta cairan infus tidak boleh kosong. Kejadian ini sangat menyedihkan, " ujar Kbarek. Ia mengakui, kejadian pasien rawap-inap yang harus membeli obat maupun cairan infus sendiri, menimpa warga Kampung Inggiri berinisial YR, yang kondisinya hamil tua, pada 12 Februari 2009. Pada kejadian itu, kata Kbarek, YR mendapat pelayanan kurang bagus, karena diperintahkan perawat jaga untuk membeli obat sendiri dan cairan infus di apotek (luar RS). Menurut Kbarek, peristiwa itu sangat mengecewakan, mengingat sektor kesehatan telah menjadi salah satu program prioritasdi daerah ini, dan mendapat pembiayaan langsung dari dana otonomi khusus Papua. Kbarek mengakui, dalam tahun anggaran 2008 pihak DPRD telah menyetujui anggaran dana pembelian obat-obatan RSUD Biak sebesar Rp2,2 miliar, serta ’bahan habis-pakai’ Rp1,8 miliar. "Jika obat dan cairan infus pasien harus beli, lalu persediaan obat yang dibeli melalui dana Otsus dikemanakan. Ini selalu menjadi pertanyaan kami sebagai wakil rakyat," katanya. [sumber:kompas] |
|
|
|
HIV/AIDS Akan Jadi Salah Satu Kurikulum SMP di Papua |
|
|
|
Ditulis oleh Administrator
|
|
| | Jayapura (ANTARA News) - HIV/AIDS akan menjadi salah satu materi pembelajaran atau kurikulum yang akan diajarkan di Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Provinsi Papua.
Hal tersebut dikatakan staf medik dari dari Wahana Visi Indonesia (WVI), dr. Ronald kepada ANTARA di Jayapura, di sela-sela acara pelatihan pendidikan kecakapan hidup untuk penanggulangan AIDS bagi guru SMP sekota Jayapura, Selasa (17/2). Ia menjelaskan, penambahan kurikulum pembelajaran tentang HIV/AIDS kepada siswa SMP bertujuan memberikan pemahaman lebih dini kepada para siswa tentang bahaya penyakit AIDS serta pentingnya masalah kesehatan organ reproduksi.
|
|
SELANJUTNYA >>>
|
|
|
Puluhan Pelajar Papua Terinfeksi HIV |
|
|
|
Ditulis oleh Administrator
|
|
| | Selasa, 17 Februari 2009 | 20:21 WIBTIMIKA, SELASA - Sebanyak 38 orang pelajar SLTP dan SLTA di Timika, Papua dinyatakan positif tertular virus HIV. Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS Daerah (KPAD) Kabupaten Mimika, Reinold Ubra di Timika, mengatakan, semakin tingginya angka penularan kasus HIV/AIDS pada generasi muda usia produktif terutama pelajar menimbulkan keprihatinan dan kekhawatiran bagi pemerintah daerah setempat.Berdasarkan data terbaru yang dikeluarkan KPAD Mimika, jumlah kasus HIV/AIDS di wilayah ini hingga akhir Desember 2008 lalu mencapai 1.793 kasus atau bertambah 48 kasus baru dari periode September 2008.
|
|
SELANJUTNYA >>>
|
|
|
DKR Papua Laksanakan Pendataan dan Pengaduan Kesehatan Masyarakat |
|
|
|
Ditulis oleh Administrator
|
|
| | Dewan Kesehatan Rakyat (DKR) Provinsi Papua mulai melaksanakan program pendataan dan pembangunan Posko penganduan kesehatan masyarakat di setiap kampung.
Hal ini diungkapkan Ketua DKR Provinsi Papua Otis Takimai kepada JUBI di Sekretariat DKR Provinsi Papua, Jayapura, Senin (19/1). Otis mengatakan, hingga saat ini DKR telah terjangkau di 21 Kabupaten dan 1 Kota Jayapura di wilayah Provinsi Papua. "Program yang dilakukan pada 21 Kabupaten dan 1 Kota Madya adalah pendataan dan pembangunan pos pengaduan kesehatan masyarakat," kata Otis. Menurut Otis, rencana program yang dilakukan oleh DKR Provinsi Papua antara lain, pendataan dan pembangunan posko pengaduan kesehatan, advokasi data masyarakat.
|
|
SELANJUTNYA >>>
|
|
|
DKR Papua Gelar Pembekalan Bagi Para Kader Posyandu dan Koordinator |
|
|
|
Ditulis oleh Administrator
|
|
| | Saturday, 24 January 2009 JUBI- Dewan Kesehatan Rakyat (DKR) Provinsi Papua menggelar pembekalan bagi para kader Posyandu dan Koordinator DKR di tingkat Kabupaten/Kota Jayapura di Aula BKKBN Provinsi Papua, Sabtu (24/1). Ketua DKR Provinsi Papua Otis Takimai kepada JUBI melalui ponselnya, Sabtu (24/1) mengatakan, kegiatan pembekalan tersebut tak ada penyampaian materi namun kegiatan itu dilakukan dengan tujuan memberikan pengarahan kepada kader Posyandu dan para koordinator DKR di tingkat Kabupaten/Kota Jayapura. |
|
SELANJUTNYA >>>
|
|
|
Puskesmas di Papua Masih Kekurangan 60 persen Tenaga Dokter |
|
|
|
Ditulis oleh Administrator
|
|
| | Menurut data Dinas Kesehatan Provinsi Papua, disinyalir, Puskesmas di Papua, masih berkekurangan sekitar 60 persen tenaga dokter. Dari data terakhir terkuak, hanya sekitar 40 persen tenaga dokter yang aktif dari sebanyak 270 Puskesmas yang ada di Kabupaten/Kota se-Papua. Itu artinya, pelayanan kesehatan di daerah perkampungan maupun pedesaan, belum dilakukan secara optimal oleh Pemerintah Daerah, baik provinsi maupun kabupaten/kota. Karena, dari 270 Peskesmas yang ada di Papua, ada sekitar 100-an lebih puskesmas yang belum ditangani langsung oleh dokter. Hal seperti ini, tentunya sungguh ironis dan memprihatinkan, pasalnya dalam beberapa pekan kebelakang, banyak timbul berbagai kasus penyakit, bahkan ada yang jiwanya harus terenggut. |
|
SELANJUTNYA >>>
|
|
|
|
Tercemar Tambang Emas PNG, Warga Merauke Bengkak Perut |
|
|
|
Ditulis oleh Administrator
|
|
| | Jumat, 20 Februari 2009 | 10:34 WIBJAYAPURA, JUMAT — Warga Kabupaten Merauke yang bermukim di Distrik Muting dan Okbibab sejak tahun lalu menderita penyakit gatal-gatal dan pembengkakan pada perut.
Kedua jenis penyakit tersebut diderita warga di dua distrik itu setelah mandi dan mengonsumsi air sungai yang diduga tercemar limbah tambang emas dari Papua Nugini (PNG).
Ketua Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia Kabupaten Merauke, Ny Patrisia Gebse, Jumat, mengatakan, berdasarkan laporan yang diterima dari warga di Distrik Muting dan Okbibab, kedua jenis penyakit tersebut sudah menyerang sebagian penduduk sehingga perlu segera mendapat perhatian dari pemerintah. |
|
SELANJUTNYA >>>
|
|
|
Menkeu : Dana Otonomi Khusus Papua Triliunan Rupiah, Orang Miskin Di Papua Terus Bertambah |
|
|
|
Ditulis oleh Administrator
|
|
| | JUBI----Sejak diberlakukan Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2001 tentang Otomomi Khusus, Tanah Papua telah mengalami kebanjiran uang. Dari data yang diperoleh JUBI triliunan uang diberikan ke Papua dan tahun 2009 ini anggaran Otonomi Khusus telah meningkat sebesar 47,6 persen dari tahun 2008. Jika tahun 2008, Papua mendapat Rp 3 triliunan lebih, maka tahun 2009 meningkat sebesar 47,6 persen.
|
|
SELANJUTNYA >>>
|
|
|
DKR Harus Tingkatkan Pengawalan Kesehatan Rakyat Papua |
|
|
|
Ditulis oleh Administrator
|
|
| | DKR tujuannya meningkatkan status derajat kesehatan umum masyarakat Papua secara mandiri dengan mengembangkan kepedulian dan kesiapsiagaan masyarakat kampong dalam mencegah dan mengatasi masalah kesehatan rakyat Papua, namun masih nampak angka gizi buruk semakin tinggi, jumlah penyakit menular` semakin merajalela bahkan angka kematian meningkat terus di Papua. "Jumlah dana Kesehatan yang dialokasikan di Provinsi Papua dan banyak yang hilang di tangan pengusaha dana pemenang tender nepotisme. Sementara pengalokasian Sumber-sumber dana di Provinsi Papua masih satu pintu,"ujar Ketua MRP, Agus Alua kepada peserta Dewan Kesehatan Rakyat (DKR) Papua di ruang kerja, Jumat (30/1).
|
|
SELANJUTNYA >>>
|
|
|
Jamkesmas Pelayanan Kesehatan Gratis untuk Rakyat Papua |
|
|
|
Ditulis oleh Administrator
|
|
| | Oleh Web Warouw
Nabire - Pemerintah memutuskan untuk menggratiskan seluruh biaya pelayanan kesehatan masyarakat Papua dan Papua Barat dalam program Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas). Hal ini adalah bagian dari program "Selamatkan Papua" (Save Papua) yang dijalankan oleh Departmen Kesehatan.
"Seluruh rakyat Papua dan Papua Barat tidak perlu mengeluarkan biaya untuk mendapatkan pelayanan kesehatan dari pemeriksaan dokter, berobat, dan perawatan inap dan jalan di kelas 3. Pemerintah pusat yang membayar seluruh biaya tersebut. Apabila ada yang menarik biaya, rakyat berhak melaporkannya ke polisi," tegas Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari dalam acara workshop Dewan Kesehatan Rakyat Papua dan Papua Barat, akhir minggu lalu, di Nabire.
|
|
SELANJUTNYA >>>
|
|
|
Pelayanan Kesehatan Yang Buruk Di Ibu Kota Provinsi Papua |
|
|
|
Ditulis oleh Administrator
|
|
| | Di Awal Tahun 2009 Baru saja kita mendengar pidato akhir tahun Gubernur Provinsi Papua Barnabas Suebu, SH. Tanggal 31 Desember 2008 lalu yang menjamin pelayanan kesehatan Gratis bagi semua orang asli Papua, ternyata apa yang terjadi di lapangan dalam hal ini pelayanan kesehatan di rumah-rumah sakit pemerintah tidak sesuai dengan pidato Gubernur Papua akhir tahun lalu. |
|
SELANJUTNYA >>>
|
|
|
|
|
Halaman 8 dari 9 |